Penanganan Bagasi Pesawat Transit

System perlakuan bagasi di bandara memainkan peran peran yang begitu perlu, untuk melindungi beberapa penumpang tetaplah suka dalam nikmati perjalanannya. Kita dapat juga menilainya kwalitas satu bandara dari bagaimana caranya mereka mengatasi bagasi. Tidak cuma penumpang yang juga akan menilainya, tetapi maskapai juga juga akan membedakan mana bandara yang memberi servis paling baik. Dari penilaian itu maskapai juga akan mengambil keputusan apakah juga akan tetaplah memakai satu bandara itu jadi HUB mereka atau tidak (Hub adalah bandara yang digunakan oleh satu maskapai jadi pusat untuk mengatur serta menyambungkan beberapa penumpangnya ke perjalanan kelanjutan selanjutnya dari pesawat yang satu ke pesawat selanjutnya).

System perlakuan bagasi (baggage-handling sistem : bhs) memiliki 3 pekerjaan pokok :

Mengubahkan bagasi dari ruang checkin ke pintu keberangkatan
Mengubahkan bagasi dari satu pintu ke pintu yang lain sepanjang saat transfer
Mengubahkan bagasi dari pintu kehadiran ke ruang klaim bagasi
Ukuran tingkat kesuksesan system perlakuan bagasi di satu bandara sesungguhnya simpel : dapatkah bagasi beralih dari satu titik ke titik selanjutnya secepat beberapa penumpang tersebut? jika bagasi-bagasi itu beralih begitu lamban, kita jadi penumpang juga akan begitu frustasi menanti bagasi-bagasi kita itu, atau karna perpindahan bagasi barusan lamban, mungkin saja mengakibatkan tas-tas kita tidak terbawa pada pesawat kelanjutan selanjutnya walau sebenarnya kita memakai pesawat kelanjutan barusan. Atau dapat pula berlangsung demikian sebaliknya, bagasi datangnya sangat cepat, saat tas-tas barusan telah terbawa oleh pesawat kelanjutan, giliran kita yang ketinggalan pesawat itu.

Tiap-tiap bandara memiliki ketentuan semasing dalam mengatasi bagasi penumpang. Umpamanya, saat yang dialokasikan untuk satu bagasi untuk dapat beralih dari checkin ruang ke satu gate/pintu, ditetapkan oleh seberapa cepat penumpang serta berapakah lama saat yang diperlukan untuk meniti perjalanan dengan jarak tempuh serta tempat maksud yang sama (checkin ruang ke gate). Di satu bandara mungkin saja tempatnya dapat ditempuh dengan jalan kaki saja, tetapi di bandara yang beda mungkin saja mesti ditempuh dengan memakai kereta atau bis.

Setelah itu apa yang dituliskan di artikel ini adalah contoh perlakuan bagasi di bandara internasional Denver. Bandara ini memakai system perlakuan bagasi automatis yang didesain oleh BAE Automated Sistem, Inc yang dapat mengubahkan bagasi dari ruang checkin ke gate keberangkatan dengan system yang dapat disebutkan automatis :

Destination-coded vehicles (DCVs), kereta tanpa ada awak yang didorong oleh motor induksi linear yang disambungkan ke rel. Kereta ini dapat bongkar serta muat bagasi tanpa ada mesti berhenti
Automatic scanners, memindai label yang berada di bagasi
Conveyors, yang diperlengkapi dengan mesin persimpangan serta pemilahan yang dengan automatis dapat mengarahkan bagasi ke gate yang dituju
System perlakuan bagasi dapat dimisalkan serupa dengan satu system jalan raya di sebuah

bgsi2 kota. Conveyors serupa dengan jalan raya umum, sedang rel DCV adalah jalan tol/highway, sedang bagasi dapat dimisalkan jadi mobil. System jalan raya serta perlakuan bagasi memiliki kemiripan seperti berikut :

Jika conveyor atau rel DCV diblok (macet), jadi bagasi dapat dialihkan
Bagasi mulai serta menyudahi perjalanan di conveyor (sama dengan perihal saat kita mengendarai mobil di jalan raya), beralih ke rel DCV saat juga akan meniti jarak yang lebih jauh, umpamanya dari terminal ke terminal atau dari gate ke gate.
DCV tidak sempat berhenti, sama seperti saat kita melalui jalan tol, akan tidak sempat didapati lampu merah di jalan tol.
Tetapi demikian semua ditata oleh system perlakuan bagasi dimanapun bagasi-bagasi itu juga akan diarahkan. Beberapa ratus computer memantau tempat tiap-tiap tas, tiap-tiap jadwal perjalanan penumpang serta jadwal terbang pesawat. Computer mengontrol persimpangan conveyor serta perpindahannya ke rel DCV serta meyakinkan kalau tiap-tiap tas selesai pada maksud akhir yang benar.

Akhirnya diawali saat kita checkin serta menyerahkan tas/bagasi kita pada petugas checkin. Petugas juga akan mencocokkan data-data kita yang berada di computer serta juga akan cetak tag (label) yang lalu tag itu ditempelkan ke tas atau bagasi kita. Tag ini memiliki sinyal barcode bernomor 10-digit yang diisi semuanya info penerbangan kita, termasuk juga info jika kita transit. Barcode ini adalah keunikan dari bagasi kita serta sifatnya unik (tak ada barcode ganda). Computer system yang berada di sisi perlakuan bagasi juga akan membaca barcode ini untuk membaca data-data penerbangan kita.

Pemberhentian pertama bagasi kita sesudah lewat sistem checkin adalah ruang pemindai barcode automatis. Ruang ini berbentuk jejeran pemindai barcode yang disusunbgsi3 360 derajat melingkari conveyor. Alat ini dapat membaca lebih kurang 90% bagasi yang lewat, sedang 10% bekasnya juga akan diarahkan ke conveyor setelah itu untuk dikerjakan pemindaian manual. Saat alat pemindai telah membaca 10-digit barcode yang melekat di bagasi kita, berarti bagasi itu juga akan di ketahui tempatnya setiap waktu. Conveyor juga akan ambil tiap-tiap tas yang juga akan diarahkan ke semasing maksud penerbangan.

bgsi4Conveyor terbagi dalam banyak jaringan. Ada beberapa ratus conveyor dengan sambungan-sambungan yang menyambungkan conveyor satu dengan yang lain. System conveyor juga akan memisah tas-tas atau bagasi dari sebagian pesawat yang berlainan, lalu kirim bagasi-bagasi itu ke DCV untuk diarahkan ke terminal-terminal maksud semasing. Ketika tas kita telah dipindai (di-scan), system perlakuan bagasi juga akan senantiasa dapat mencari gerakannya setiap waktu. Saat tas itu telah tiba pada sambungan antar conveyor, ada alat yang namanya pusher, yang juga akan melanjutkan tas itu untuk tetaplah lewat conveyor yang sama, atau alat ini juga akan mendorong tas barusan ke conveyor yang berlainan. Lewat jaringan conveyor serta sambungannya ini (junction) tas-tas barusan dapat diantar ke tiap-tiap maksud akhir semasing.

Pekerjaan dari DCV (the Destination Coded Vehicle) adalah mengubahkan tas dengan cepat kebgsi6 gate berkaitan. DCV adalah kereta metal dengan roda di bawahnya serta ada seperti bak plastik di atasnya. DCV digerakkan lewat satu jalur rel (seperti roller coaster) yang didorong oleh induksi motor linear yang dipasangkan di jalur rel itu. Induksi motor ini memakai elektromagnetik untuk membuat dua medan magnet yang berlainan, satu di rel serta satunya sekali lagi di basic DCV yang sama-sama tarik menarik keduanya. Motor menggerakkan medan magnet yang berada di rel, serta menarik DCV selama jalurnya dengan kecepatan tinggi.

Ada seperti poros yang dipasangkan pada bak yang berada di DCV. Nyaris setiap waktu bak ini dimiringkan ke arah belakang untuk melindungi supaya tas-tas yang dibawanya tidak terjatuh atau tergeser keluar. Ada seperti tali yang mengunci bak itu dalam tempat sekian. Saat DCV telah tiba di loading ruang (tempat pemuatan barang), ada bgsi7semacam tiang yang berada di jalur rel yang juga akan naik serta melibatkan tuas yang ada di DCV untuk menggerakkan tempat bak pada tempat mendatar. Saat DCV yang kosong itu ada di loading conveyor, tas-tas yang berada di conveyor juga akan bergerak meninggalkan ujung conveyor menuju ke bak-bak yang berada di DCV itu. Semuanya sistem berjalan tanpa ada mesti hentikan DCV. Conveyor memiliki system penjemputan optik, dengan hal tersebut tas-tas barusan dapat dideteksi dengan pas di mana tempatnya serta bisa dimuat dalam DCV pada saat yang pas. Sistem pembongkaran (unloading) DCV lewat sistem yang nyaris sama dari sistem pemuatan (loading). Satu mekanisme yang berlangsung di jalur rel memakai tuas untuk memiringkan bak ke arah bawah hingga tas-tas juga akan jatuh kedalam conveyor yang jalan di selama sisinya. Pada keadaan ini, bagasi-bagasi itu telah ada dekat dengan tempat pesawat terbang.

Tas-tas itu lalu juga akan menuju ke ruangan pembelahan (sorting station) yang berada di bgsi8dekat gate. Di ruangan pembelahan ini petugas bagasi juga akan menambah tas kedalam gerobak atau kereta bagasi yang juga akan segera menuju ke pesawat. Saat berisi tas kedalam pesawat, tas-tas yang juga akan lewat transfer, juga akan dimuat ke satu tempat yang terpisah dari tas-tas yang juga akan segera menuju ke ruang klaim bagasi. Monitor di ruangan pembelahan juga akan memberitahukan pada petugas tas-tas itu menuju ke tujuan/maksud mana. Saat sistem pemuatan bagasi/tas kedalam kereta atau container telah usai, lalu tas-tas itu juga akan dibawa menuju ke pesawat. Sistem pemuatan kedalam pesawat ada dua langkah : bulk loaded, bermakna tas satu per satu juga akan diletakkan kedalam beberapa rack di kargo pesawat, serta yang ke-2 container loaded, bermakna tas dimasukkan kedalam container spesial diluar pesawat/ground, serta container itu segera dimasukkan kedalam pesawat.

bgsi9Apabila tas atau bagasi kita mesti melalui transfer di hub satu maskapai serta kita mesti memakai pesawat yang berlainan untuk meneruskan perjalanan, sistem yang berlangsung adalah ada 2 DCV yang jalan berlawanan. Satu DCV membawa segera bagasi penumpang ke ruang klaim bagasi. Lalu sistem yang lain adalah conveyor membawa bagasi ke stasiun pemindai, lalu diarahkan ke jalur DCV yang membawa tas-tas penumpang ke pintu-pintu paling dekat dengan pesawat kelanjutan.

Seberapa cepat atau lambat bagasi-bagasi hingga ke tangan penumpang sebentar sesudah mereka turun serta keluar dari pesawat dapat tunjukkan bagaimana kwalitas system perlakuan bagasi yang berada di satu bandara. Bagaimana dengan bandara Soekarno Hatta? Pengalaman saya terlebih saat saya baru pulang dari melancong diluar negeri serta sebentar saya keluar dari pesawat (umumnya saya memakai Emirates, Etihads, atau Qatar Airways), diperlukan saat yang cukup lama lebih kurang 1 jam untuk dapat memperoleh bagasi-bagasi saya itu.

Kelihatannya system perlakuan bagasi di bandara Soekarno Hatta belum juga seutuhnya automatis, serta masih tetap digerakkan dengan manual. Bandara Soekarno Hatta juga belum juga jadikan hub oleh maskapai-maskapai besar. Umumnya maskapai-maskapai ini memakai KLIA atau Changi jadi hub mereka. Mungkin saja satu diantaranya dikarenakan oleh system perlakuan bagasi yang telah tambah baik serta maju di ke-2 bandara itu dibanding dengan yang berada di Bandara Soekarno Hatta. Mudah-mudahan yang akan datang Bandara Soetta dapat makin berbenar serta dapat menguber ketinggal dari bandara-bandara di negara tetangga. Bagaimanapun juga bandara internasional adalah pintu gerbang pertama untuk masuk satu negara, yang mungkin saja dapat memberi kesan pertama pada beberapa pengunjung bagaimana muka negara saat masuk negara itu. Memiliki satu bandara internasional yang moderen, teratur rapi, serta ter-menej dengan baik pastinya keinginan kita semuanya. Mudah-mudahan perbaikan Bandara Soekarno Hatta yang dijadwalkan usai th. 2014 dapat menjawab tantangan itu semuanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *